Perda

Jasmara Lingkungan Hidup se Eks Wilayah Tegalega

Meski masih ada sebagian warga kota yang belum sadar dan mengambil bagian dalam gerakan menanam pohon, membangun sumur serapan, serta tidak membuang sampah ke k

Sysadmin Sabtu, 13 Agustus 2016 09:31
Jasmara Lingkungan Hidup se Eks Wilayah Tegalega
Jasmara Lingkungan Hidup se Eks Wilayah Tegalega

Meski masih ada sebagian warga kota yang belum sadar dan mengambil bagian dalam gerakan menanam pohon, membangun sumur serapan, serta tidak membuang sampah ke kali, secara keseluruhan, partisipasi masyarakat dalam pembangunan lingkungan hidup di Kota Bandung, sudah semakin baik dan meningkat.

“Saya atas nama Pemerintah Kota Bandung, menyampaikan terima kasih, “sedangkan kepada yang belum, saya mengharapkan kesadarannya, minimal tidak mengganggu atau melakukan perusakan”, ungkap walikota dalam acara Jaring Aspirasi dan Partisipasi Masyarakat Lingkungan Hidup (Jasmara LH) se eks Wilayah Tegalega, Selasa (25/07/06), di halaman parkir Barat Taman Tegalega Bandung.

Walikota yang baru saja pulang dari Singapur, mengemukakan, pentingnya kebersamaan dan saling pengertian yang harmonis antara pemerintah dengan warganya, selain juga kecintaan, disiplin dan konsistensi membangun lingkungan hidup untuk kepentingan bersama. Semua pihak harus memahami apa yang menjadi kewajiban dan tanggungjawabnya, serta harus memiliki keinginan dan tekad untuk melakukan prubahan kea rah yang lebih baik.

“Saya sangat terkesan dengan kedisiplinan dan kecintaan warga Singapur, meskipun kotanya kecil dan lahannya terbatas, sangat konsen terhadap pembangunan lingkungan hidupnya. -- Singapur ibarat kota yang dibangun di tengah hutan, termasuk penanganan sampahnya yang sudah maju dengan menerapkan system fabrikasi yang mengolah sampah menjadi energi listrik ”, papar walikota.

                Singapura pada 14 tahun sebelumnya, dalam penanganan sampah menggunakan system sanitarian landfill. Namun karena desakan keterbatasan lahan, Singapura memutuskan untuk menerapkan penanganan sampah dengan cara fabrikasi dengan teknologi Jerman. Pabrik pengolahan sampah denan nama “Senoko Incinerator Plant” ini, dikataakan walikota, dibangun pada Tahun 1992. Memiliki 6 incinerator, masing-masing incinerator mampu mengolah 2.400 ton sampah setiap harinya dan menghasilkan 36 mega watt energi listrik. Sebanyak 80 % dari produk energi listrik ini, dijual kepada negara. Sementara residu olahan hanya menghasilkan 10 %, artinya mampu memusnahkan sampah sebanyak 90 %. 

                “Pilihan Pemerintah Kota Bandung dalam penanganan sampah kota, dengan rencana membangun pabrik pengolahan sampah, sudah benar dan merupakan solusi tepat.-- Saya melihat, Singapura ternyata sudah melakukannya selama 14 tahun, dan ini cukup berhasil” ucap walikota.

Meski awal pembangunan nya di biayai pemerintah, ditambahkan walikota, namun setelah berjalan, biaya operasi pabrik dapat tertutupi bahkan sekarang tidak disubsidi lagi.  Karenanya walikota tidak ragu-ragu lagi, bahkan bertekad segera mewujudkannya. Sedangkan terkait adanya penawaran sharring modal dari investor Singapura, diserahkan kepada konsorsium PT Bandung Raya Indah Lestari (PT BRIL) yang sudah menandatangani kerjasama dengan Pemkot Bandung. Jadi kemunungkinan, menurut walikota, bisa bisa mereka bergabung. 

Sementara dalam kesempatan dialog Jasmara LH, sejumlah tokoh masyarakat mewakili warganya, menyampaikan terimakasih kepada walikota, atas upaya dan kerja keras Pemkot dalam menangani sampah di Kota Bandung. Sehingga Bandung kembali bersih dan nyaman, seperti yang disampaikan Sarifudin Ketua LPM Jamika Kecamatan Bojongloa Kaler.

Lain halnya dengan, Adang Amung dari Bojongloa Kaler, yang mengusulkan agar keberadaan Taman Tegalega yang disebutnya sebagai “Tamansari Dunia“, untuk tetap dipertahankan. Menurutnya Taman Tegalega sekarang sudah bukan saja milik warga Bandung, tapi sudah menjadi kebanggaan nasional dan miliki dunia. Karena  secara psychologis lebih 100 kepala negara Asia Afrika menanam pohon yang berasal dari negarangnya.

Lain halnya dengan Rustama dari LPM Kec Bojongloa Kidul, setelah selama setahun berolahraga dan berekreasi secara rutin seminggu 3 kali di Taman Tegalega, dirinya menjadi yang semula 2 bulan sekali berobat ke dokter, sekarang sudah setahun merasa lebih sehat dan tidak pernah ke dokter lagi.

Enay Hidayat dari Babakan Tarogong, mengusulkan agar Pemkot untuk menanami pohon penghijauan maupun produktif di bantaran kali babakan irigasi. Ia bersama pengurus lainnya telah mencobanya, namun mendapat tentangan karena, menurut warga yang mendirikan bangunan disana, sudah ada ijin dari yang menamakan perwakilan dinas pengairan Kota Bandung, yang membolehkan untuk mendirikan bangunan tempat tinggal dengan membayar sewa Rp. 1600,- per meternya. Ia mempertanyakan kebenaran informasi tersebut kepada walikota, karena tidak sejalan dengan aturan.

Samsudin warga Cibaduyut wetan, menyoroti kegiatan penghijauan kota, perlunya pemilahan jenis, sifat dan jumlah pohon yang ditanam, disesuaikan dengan jumlah penduduk maupun habitat berbagai jenis burung hidup disekitarnya. Ia juga minta perhatian pemerintah untuk mengatasi polusi udara di KotaBandung, yang menurutnya sudah mencapai keasaman 5,5 bahkan diatas kotaBandung sudah terjadi hujan asam, sehingga dapat  merugikan kesehatan masyarakat.