Berita

SOLIHIN: PENTING, PERAN PENDIDIKAN TINGGI DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0

Menghadapi era revolusi industri 4.0, peran pendidikan tinggi menjadi sangat penting, terutama dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Oleh karenanya

Miftah Rabu, 02 Mei 2018 16:15
SOLIHIN: PENTING, PERAN PENDIDIKAN TINGGI DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0
SOLIHIN: PENTING, PERAN PENDIDIKAN TINGGI DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0

Menghadapi era revolusi industri 4.0, peran pendidikan tinggi menjadi sangat penting, terutama dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Oleh karenanya, pendidikan tinggi yang berbasis riset harus mendorong semakin terbukanya pengetahuan yang mampu meningkatkan kesejahteraan manusia.

Hal tersebut diungkapkan Penjabat Sementara (Pjs) Wali Kota Bandung Muhamad Solihin usai menjadi inspektur upacara pada peringatan Hari Pendidikan Nasional yang dirangkaikan dengan Hari Otonomi Daerah di Plaza Balai Kota Bandung, Rabu (2/5/2018). Pada upacara tersebut, Solihin membacakan amanat dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia.

Solihin mengatakan, revolusi industri 4.0 telah mengubah paradigma masyarakat dunia hari ini. Tuntutan untuk semakin meningkatkan inovasi di segala bidang terus menguat. Pasalnya, berbagai teknologi untuk menggantikan peran manusia di bidang industri semakin bermunculan. Hal itu memunculkan tantangan agar manusia hari ini bisa terus beradaptasi dengan perubahan zaman.

“Di satu sisi, revolusi ini telah mengubah ciri dan cara lama dalam banyak aspek kehidupan. Di sisi lain, revolusi ini menjadi tantangan yang harus dijawab oleh pendidikan tinggi,” tutur Solihin.

Menurutnya, kekuatan pendidikan tinggi terdapat pada riset. Tuntutan riset yang dikeluarkan oleh pendidikan tinggi, terutama untuk jenjang S3, harus mendapat pengakuan internasional.. Hal tersebut untuk menjaga marwah pendidikan tinggi di Indonesia agar senantiasa terjaga kualitas dan integritasnya.

“Pendidikan itu tidak semata-mata meraih gelar, tetapi ada yang harus dicari ilmunya, harus ilmu yang aplikatif dan bisa dipertanggungjawabkan,” katanya.

Saat ini, yang menjadi tugas besar pemerintah adalah menyediakan pintu yang selebar-lebarnya agar lebih banyak masyarakat yang bisa meraih pendidikan tinggi. Dengan begitu, kualitas sumber daya manusia dapat semakin kompetitif untuk menjawab kebutuhan zaman.

“Semakin banyak orang yang bisa mengakses pendidikan tinggi, tentu semakin baik,” imbuhnya.

Ada banyak gagasan yang dikemukakan oleh Kementerian Riset dan Teknologi untuk mengoptimalkan pendidikan, salah satunya adalah program Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) berupa pembangunan universitas siber yang dipersiapkan untuk pembelajaran dalam jaringan (daring). Melalui metode ini, masyarakat diharapkan bisa memperoleh peluang lebih besar dalam mengakses pendidikan tinggi.

“Saat ini, Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan tinggi baru 31,5%. Jika pembelajaran hanya diterapkan secara konvensional, peningkatan APK hanya berkisar di 0,5% per tahun. Namun dengan terobosan PJJ, diharapkan APK pendidikan tinggi mampu melesat mencapai 40% di tahun 2022-2023, asalkan PJJ dapat diakses oleh lebih banyak orang secara efektif,” papar Solihin.