Pemda

Wali Kota Bandung, H Dada Rosada Menerima Anugerah Pena Emas Laskar Pelangi.

Pengurus Pusat Keluarga Mahasiswa Bandung (KMB) menilai Kota Bandung dibawah kepemimpinan Dada Rosada, telah sangat bersungguh-sungguh memajukan pendidikan, dib

Sysadmin Sabtu, 13 Agustus 2016 09:35
Wali Kota Bandung, H Dada Rosada Menerima Anugerah Pena Emas Laskar Pelangi.
Wali Kota Bandung, H Dada Rosada Menerima Anugerah Pena Emas Laskar Pelangi.

Pengurus Pusat Keluarga Mahasiswa Bandung (KMB) menilai Kota Bandung dibawah kepemimpinan Dada Rosada, telah sangat bersungguh-sungguh memajukan pendidikan, dibuktikan dengan siginikansi dana pendidikan Rp 1,1 triliun atau 52 % dari total APBD 2009. Hal lainnya, kontinuitas kenaikan anggaran pendidikan juga terus meningkat secara gradual sejak 2003, jumlah siswa yang dibebaskan dari biaya sekolah sejak 2005 s.d 2009 meningkat, serta inovasi pemberian insentif atau tunjangan kepada guru honorer dan guru-guru lain.

“Ini hal-hal yang patut kami apresiasi.  Dada Rosada telah membawa perubahan Kota Bandung menuju pendidikan yang lebih baik. Perubahan Indonesia juga akan berawal dari Kota Bandung,” kata Ketua Umum KMB, Andri Gunawan, dalam acara penganugerahan Pena Emas kepada Wali Kota Bandung, di lapang RT 03 RW 04 Sukahaji Kecamatan Babakan Ciparay Bandung, Selasa malam (19/05/09).

Bandung seperti apa yang dikatakan presiden SBY, Bandung adalah kota kebudayaan dan peradaban, saya kira ini adalah tepat karena dari Bandung tumbuh banyak founding father seperti Soekarno dan Moh Natsir. Bahkan peretas awal pergerakan kemerdekaan bangsa juga dari Bandung. Tidak heran jika perubahan Kota Bandung menuju pendidikan yang lebih baik, perubahan Indonesia juga berawal dari Bandung,” imbuhnya.

KMB memberikan penghargaan, dikatakanAndri, bukan karena pupujieun atau ingin mendapat pujian. ‘Ketika pemerintah kota atau lembaga legislative melakukan sesuatu kekeliruan, seringkali kami kelompok mahasiswa berdemionstrasi di jalan. Kita demonstrasi, kita macetkan jalan, kita kritik habis-habisan. Hari ini, ketika pemerintah kota melakukan sesuatu yang positif, adalah sebuah tanggung jawab akademik ketika kita memberikan penghargaan itu. Artinya memberikan sesuatu yang proporsional,”.

Ditengah nuansa dekorasi merah putih, panggung dan tenda sederhana tapi khidmat, penghargaan diserahkan Sayib Cep Purnama siswa MTs Babussalam dan Putri Mawar Gustiani siswa SD Pasundan 3, mewakili rekan-rekanya pelajar se Bandung. Disaksikan sejumlah anggota DPRD, jajaran Muspida, tokoh masyarakat, komunitas pendidikan dan masyarakat umum.

Nuansa merah putih dikatakannya, sengaja diciptakan sebagai rasa optimistis, semangat dan harapan baru yang tidak pernah dimiliki. Harapan besar yang selama ini gemboknya belum terbuka untuk semua orang. Kini telah dibuka seorang yang bernama Dada Rosada, tinggal bagaimana masyarakat mengawal dan mengawasinya pelaksanaan sekolah gratis.

“Hari ini adalah waktu yang menentukan. Pendidikan adalah awal dari kesejahteraan. Sekolah-sekolah murah yang berkualitas adalah awal sebuah perubahan menuju perbaikan. Jepang ketika kalah perang dunia tidak pernah berhitung berapa jendral yang dimiliki, tentara tersisa tapi berapa jumlah guru yang diliki. Islam memiliki doktrin, menuntut ilmu harus mulai dari lahir sampai masuk liang lahat. Bukti pendidikan adalah hal yang sangat penting, ”tutur Andri yang mengaku lahir dari keluarga bapak penjahit dan ibu guru honorer TK dengan penghasilan rata-rata. Tidak pernah bermimpi menjadi mahasiswa, bermimpi bisa kuliah karena memandang pendidikan di kampus belum terjangkau semua kalangan. Dirinya berharap, di Kota Bandung ada juga bantuan wali kota khusus  (Bawaku) Skripsi S1, S2 atau S3.

Memajukan pendidikan dengan target Bandung Cerdas yaitu rata-rata pendidikan SLTA merupakan komitmen dari kewaqjiban dan anggung jawab dirinya sebagai wali kota untuk melindungi, mencerdaskan dan mensejahterakan warganya. Menurutnya daya saing SDM kini khususnya pada pangsa tenaga kerja menuntut minimal SLTA.

“Untuk bisa sejahtera dan maju bangsa ini, kuncinya hanyalah dengan pendidikan. Tidak ada yang lain. Bandung untuk bisa memiliki kehormatan, harga diri dan kebanggaan hanyalah dengan mendidik SDM berkualitas agar memiliki daya saing tinggi,” tandas Dada.

“Ada sebelas persoalan atau mutiara pendidikan yang terbenam di Kota Bandung yang harus harus digosok, yaitu kesejahteraan guru, anak tidak sekolah karena orang tuanya tidak mampu, infrastruktur bangunan sekolah rusak, biaya sekolah, sarana pendukung lain termasuk peningkatan peran dewan dan komite sekolah serta dunia usaha. Semua harus diupayakan bagaimana bisa diwujudkan, meski itu perlu dana tinggi,” pungkasnya seraya menjanjikan bantuan perbaikan rehab rumah tidak layak huni keluarga miskin RT setempat, diluar 250 yang ditargetkan dalam APBD.

Kepala Badan Komunikasi dan Informatika
Bulgan Alamin