Perda

Menteri KLH Rahmat Witoelar Tinjau Masalah Sampah di Kota Bandung

Menteri Lingkungan Hidup (KLH) Rahmat Witoelar, sangat kecewa  bahkan merasakan batinnya menangis, melihat kondisi Kota Bandung yang merupakan Kota tempatnya m

Sysadmin Sabtu, 13 Agustus 2016 09:31
Menteri KLH Rahmat Witoelar Tinjau Masalah Sampah di Kota Bandung
Menteri KLH Rahmat Witoelar Tinjau Masalah Sampah di Kota Bandung

Menteri Lingkungan Hidup (KLH) Rahmat Witoelar, sangat kecewa  bahkan merasakan batinnya menangis, melihat kondisi Kota Bandung yang merupakan Kota tempatnya menimba ilmu, mendapat  cobaan dengan menumpuknya sampah menyusul belum adanya tempat pembuangan akhir (TPA) sampah di Kota Bandung pasca penutupan TPA Leuwigajah dan berakhirnya penggunaan TPA Jelekong.

“Saya memang sangat kecewa. Karena ini bukan mendadak, karena kejadiannnya sudah tiga kali sejak TPA Leuwigajah ditutup, dan ini sudah 40 puluh hari. -- Masalahnya adalah mengenai TPA. Tapi, itu,kan bisa dirundingkan, jangan ngotot-ngotot dan jangan jadi masalah yang sensitive terhadap pertengkaran instansi. Masalah teknologi dan keuangan tidak masalah. Kalau ada lahannya nanti, Pak deputi ini akan membawa orang yang akan mengelola tanpa dapat uang dari sini, akan olah sendiri. -- Jadi tidak ada masalah kecuali keinginan bulat dan satu penyelesaian  yang bersahabat diantara seluruh stakeholder”, ucap Menteri saat meninjau kegiatan aksi mahasiswa peduli sampah di lokasi TPS di Jalan Puter Kelurahan Sadangserang Kecamatan Coblong Bandung, Jum’at (12/05/06).

Menteri yang didampingi beberapa Deputi dan Staf Khususnya, sebelumnya sempat berkunjung Ke SMP Negeri 7 Jalan Ambon dan ke SD Swasta Yayasan Pendidikan Assalam Jl. Sasakgantung Kelurahan Balonggede Kecamatan Regol. Bahkan ketika di SD Assalam, Menteri bersama para siswa,  ramai-ramai membagikan kantung plastic kepada masyarakat yang lewat, serta ikut memunguti sampah.

Menteri juga mengungkapkan rasa herannya, Kota Bandung sebagai gudang orang pintar, sekolahnya banyak dan  wartawanya gesit, tapi bisa terjadi malasah seperti ini. Menurutnya, seharusnya semangat Bandung tidak boleh kalah sama sampah, tapi kok malah kalah.

Kesulitan mendapatkan TPA yang disebabkan penolakan warga sekitar calon lokasi, dikatakan Menteri, namanya pemerintah, ya harus bisa mengayomi warganya dan mesti rujuk. Karena tidak ada orang, yang ingin menempatkan sampah yang kotor disekitar dekat rumahnya. Tetapi di jaman sekarang, menurutnya tempat-tempat sampah tidak perlu kotor, dan tidak perlu menimbulkan bau. Bahkan Menteri juga mengakui, sudah banyak pengusaha yang datang kepadanya, menawarkan untuk membereskan pengelolaan sampah, tanpa menimbulkan bau.

“Kalau ada lahannya dan ada keinginan , Saya akan usahakan agar mereka dapat dipertemukan dengan para pemerintah daerah, -- dan Saya tidak bicara hanya Bandung. Kalau saya peduli, karena saya pernah dididik dan punya rumah di Bandung”, ujar menteri yang saat itu sengaja tidak memakai masker penutup hidup, agar bisa sama-sama menikmati baunya sampah.  

Namun ketika ditanya sikapnya terhadap upaya yang dilakukan Walikota Bandung, menurut menteri, upaya-upaya yang dilakukan walikota telah dan masih berusaha lebih. Namun ia juga tidak tahu persis, persoalan jelas dan pasti, apa yang dihadapi Kota Bandung.Tentunya walikota juga punya alasan, dan ia sendiri ingin menolongnya. Untuk itu ia berpesan kepada Dirut PD Kebersihan, Drs Awan Gumelar MSi, untuk menyampaikannya keinginannya kepada walikota..  Ia juga memerintahkan Asisten Deputi KLH yang membidangi urusan sampah, Moch Helmi untuk segera mengundang walikota Bandung, termasuk Bupati Bandung dan walikota Cimahi. Sehingga Menteri akan mengetahui secara jelas, solusi bantuan tepat sesuai permasalah yang dihadapi, termasuk bantuan pengadaan lahan untuk TPA

Koordinator aksi peduli sampah, Ir M SatoriMT mengatakan, aksi akan dilakukan selama 1 minggu. Diprakarsasi Forum Dosen dan Mahasiswa terdiri dari perrguruan tinggi Unisba, ITB dan Unpad, bekerjasama dengan LSM Sumber Ilmu dan masyarakat setempat. Aksi pemisahan dan penggilingan sampah tersebut, murni merupakan kepedulian dan sikap keprihatinan terhadap kondisi persampahan di KotaBandung. Dimaksudkan sebagai upaya menggugah kesadaran semua pihak untuk bersatu padu menyelesaikan masalah sampah, sambil menunggu diperolehnya TPA baru. Namun jika aksi pemilahan penggilingan sampah yang merupakan uji coba ini dianggap efektif, pola ini dapat disinergikan dengan system pengelolaan dan pengolahan sampah Kota Bandung secara keseluruhan.