Perda

Peringatan ke 98 Harkitnas Tahun 2006 Tk Kota Bandung

Semangat Kebangkitan Nasional adalh bentuk perlawanan terhadap kekuasan kolonial Belanda yang tidak manusiawi dan tidak adil, sekaligus penegasan tekad bangsa u

Sysadmin Sabtu, 13 Agustus 2016 09:31
Peringatan ke 98 Harkitnas Tahun 2006 Tk Kota Bandung
Peringatan ke 98 Harkitnas Tahun 2006 Tk Kota Bandung

Semangat Kebangkitan Nasional adalh bentuk perlawanan terhadap kekuasan kolonial Belanda yang tidak manusiawi dan tidak adil, sekaligus penegasan tekad bangsa untuk bebas dan merdeka dari belenggu kolonialisme dan imperialisme. Yaitu kebangkitan kesadaran atas kesatuan kebangsaan atau nasionalisme yang ditandai berdirinya organisasi Budi Otomo 20 Mei 1908. Yang akhirnya, setelah melalui perjuangan panjang, mencapai puncaknya dengan proklamasi kemerdekaan RI 17 Agustus 1945 yang dengan tegas mengamanatkan negara RI adalah negara kesatuan yang ditegakan berdasarkan prinsip negara hukum.

Sedangkan penerapan Otonomi Daerah, bukanlah dimaksudkan sebagai upaya pemecahan wilayah NKRI. Namun pelaksanaan, Otda lebih merupakan pelimpahan sebagian kewenagan Pemerinatah Pusat kepada Daerah, yang didasarkan berbagai pertimbangan, diantaranya peningkatan pelayanan dalam rangka melindungi maupun meningkatkan kesejahteraan masyarakat, yang kegiatannya  lebih banyak di daerah. Karenanya, tidak tepat jika Otda dianggap sebagai ancaman yang dapat menyebabkan pecahnya NKRI.

Hal ini dikatakan Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Bandung, H Maman Suparman SH ketika konfirmasi, usai upacara peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) Tahun 2006 Tingkat Kota Bandung, Sabtu (19/05/06), di Plaza Balaikota Bandung. Dihadiri sedikit 8 pejabat publik dan 4 anggota DPRD, PNS di Lingkungan Pemkot, sejumlah ormas/OKP, Pelajar, Mahasiswa, PNS dan LVRI.

Upacara peringatan Harkitnas kali ini, agak berbeda bahkan bisa dikatakan sangat sederhana. Tanpa tenda undangan kehormatan, bahkan Muspida pun tak satupun hadir termasuk kehadiran tokoh masyarakat maupun sesepuh Bandung. Kondisi ini, lebih disebabkan disebabkan tumpleknya perhatian dan kehadiran pejabat pada kegiatan “Gema Nusa 10 K” di Kota Bandung yang dihadiri Prtesiden RI Susilo Bambang Yudhoyono.

Menteri Komunikasi dan Informatika, Sofyan Jalil dalam sambutan tertulis yang dibacakan Sekda, mengungkapkan, NKRI pada dasarnya mengelola kekuasaan berdasarkan hukum, bukan berdasarkan kekuasaan. Dalam proses politik, NKRI pernah terjebak dalam suatu priode dimana kekuasaan ditegakan berdasarkan kekuasaan, bukan berdasarkan hukum. Kekuasaan adalah hukum itu sendiri, maka akibatnya kekuasaan cenderung otoriter, sentralistik dan represif.

Gerakan reformasi, yang telah menumbangkan kekuasaan yang sentralistik, sesungguhnya merupakan gerakan moral mengembalikan kekuasaan berdasarkan hukum. Hal ini disebabkan, disaat kekuasaan adalah hukum, penataan hukum dan penciptaan Undang-Undang terlambat. Sehingga saat kekuasaan itu tumbang, ada ruang kosong sebagai akibat keterlambatan pembuatan Undang-Undang, yang memicu komunalise dan kecenderungan masyarakat untuk main hakim sendiri.

Semangat pemerintahan sekarang, seperti diamanatkan gerakan reformasi, menurut menteri, adalah ingin menyelenggaraakan pemerintahan yang bersih dan anti korupsi,kolusi dan nepotisme (KKN).  Pengusutan terhadap pelaku KKN ini terus dilakukan tidak pandang bulu. Banyak pejabat negara, menteri, gubernur, bupati maupun anggota DPR serta konlomerat yang diusut dan dipenjarakan. Jika kita gagal memberantas KKN, menurutnya, nasib raky akan semakin sulit diperbaiki dan pemerintahan ini gagal mewujudkan kesejahteraan bagi rakyatnya. Dan bagi presiden pilihan rakyat, tidak ada pilihan lain, kecuali mengusut dan memberntasnya sampai tuntas.

Peringatan Harkitnas 2006, bertema “Dengan juwa kebangkitan nasional kita satukan semangat kebangsaan untuk memperkuat NKRI”, dengan maksud agar dari peristiwa ini,  bangsa Indonesia dapat mengambil jiwa, semangat dan makna hakiki yang melatarbelakanginya, yaitu persatuan bangsa untuk merdeka,  bermartabat, sejahtera dan kuat.

Dalam kesempatan tersebut, Sekda menyerahkan trophy kepada para pemenang lomba “Poco’Poco” anatar kecamatan dan katagori umum se Kota Bandung ke 3 yang dilaksanakan 17 Mei 2006. Diantaranya. Kecamatan Batunungal Juara I Kategori perwakilan kecamatan, mendapatkan tropy Ketua TP PKK KotaBandung. Sedangkan kategori Umum, juara I diraih Sanggar G Five mendapat tropy dari Ketua Dharma Wanita Persatuan Kota Bandung.